Thursday, November 8, 2018

(Chapter IV - Polymer) Laporan Pembuatan Poli Metil Meta Akrilat / PMMA

LAPORAN RESMI
PRAKTEK Tekonologi Polimer
Pembuatan Poli Metil Metakrilat (PMMA)
AKIN









Disusun oleh :
Kelompok : 6 A
1.      Antonius Yunian Wicaksono 112002
2.      Novitalia                                   112028


AKADEMI KIMIA INDUSTRI SANTO PAULUS
SEMARANG
2013
TUJUAN                               :
~        Dapat mengetahui pembuatan PMMA secara adisi dan dalam keadaan emulsi.

DASAR TEORI                    :
Acrilic plastik merupakan beberapa kelompok dari golongan bahan plastik turunan asam acrylat. Contohnya adalah poli metal metakrilat. Poli metal metakrilat dibuat dari monomernya yaitu metal metakrilat yang dibuat dengan memanaskan aseton cyanhidrin (dari asam hydrocyanic denganaseton) dengan sulfat untuk membentuk metacylamide sulfat. Yang terakhir adalah reaksi (tanpa pemisahan) dengan air dan methanol untuk menghasilkan metil metakrilat.
Aseton pertama-tama direaksikan denganhi drogen cyanide untuk membentuk aseton cyanohidrin. Reaksinya :
 




Lalu cyanohidrin kemudian diproses dengan 98% H2SO4 di ketel hirolisis yang didinginkan untuk menghasilkan metacylamide sulfat.
 




Sulfat tidak dipisahkan dari reaksi campuran dimana melewati ketel esterifikasi dan bereaksi lanjut dengan metanol.
 





Sifat fisis fari monomer MMA :
            Boiling point ( 760 mmHg)                                 100,50C
            Density  D420                                                                           0,936-0,94  mg/cm3
            Refractive Index nD20                                          1,413-1,416
            Heat of polymerization                                        48,6 kJ/mol
            Larut dalam air (hidrofilik)                                  1,5 %
Pembuatan Poli metil metakrilat (PMMA) dapat dilakukan secara polimerisasi rantai dan reaksi adisi. Proses ini berlangsung secara radikal bebas dalam kondisi bulk dan suspensi. Polimerisasi secara radikal bebas kondisi bulk akan menghasilkan PMMA dengan berat molekul tinggi dan dalam bentuk lembaran batang tabung, sedangkan polimerisasi secara radikal bebas dalam kondisi suspensi menghasilkan PMMA dengan berat molekul rendah dan bentuk butir-butir. Proses dalam kondisi bulk lebih mahal dari pada dalam kondisi suspensi karena dalam proses secara bulk harus dilakukan secara bertingkat dan juga hasilnya harus diproses lagi supaya dapat digunakan. Proses pembuatan poli metil metakrilat (PMMA) reaksi berjalan secara reaksi berantai dengan tahap inisiasi, propagasi dan terminasi.
Mekanismenya :
            Tahap insiasi :











            Tahap propagasi :



            Tahap terminasi berlangsung secara kombinasi (dua radikal bergabung) dan disproposional (satu hydrogen pada posisi beta terhadap pusat radikal ditransfer ke radikal lain)
            Terminasi kombinasi :
 










Poli metil metakrilat (PMMA) merupakan bahan jernih, plastic transparan tak berwarna dengan higher softening point, kuat bentur yang baik, weaterbility yang lebih baik dari poli stitren. Acrylic bias dipolimerisasi dengan copolimerisasi melalui bulk dan suspensiuntuk menghasilkan unmodified resin, dilarutkan dengan solvent yang tepatseperti aromatic hirokarbon/keton dan diemulsikan dengan adisi dari emulsifier yang tepat.
Sifat poli metal metakrilat antara lain :
־    Termo plastik ataktik linear
־    Bahan larutan reagen anorganik, termasuk asam dan basa
־    Optical clarity dan lack of color
־    Weaterbility baik dan tahan outdoor
־    Mechanican dan thermal : good
־    Tensile strength : 10.000 psi
־    Electrical : good
־    Fabrikasi : quite good
־    Heat distorsion temperature diatas 900C
Aplikasi Polimetil metakrilat (PMMA) :
ü  Otomotif ( in tail dan signal light sense)
ü  Brush backs, jewelry, lenses, small signs
ü  Major uses for sheet baik secara cast dan extruded termasuk signs, glazing skylight, decorative purpose

ALAT & BAHAN     :
A.    ALAT

1.      Mekanik stirrer
2.      Thermometer
3.      Pendingin bola
4.      Bunsen
5.      Kasa
6.      Tripot
7.      Klem
8.      Statif
9.      Three neck
10.  Beaker glass

B.     BAHAN

a.       MMA
b.      Air
c.       PVA
d.      H2O2

CARA KERJA                     :
1.      Didihkan air dalam beaker glass.
2.      Tambahkan air yang telah di didihkan kedalam PVA sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga PVA larut semua.
3.      Larutan PVA dan inisiator H2O2 dimasukan kedalam three neck sambil dipanasan.
4.      MMA ditambahkan sedikit demi sedikit kedalam three neck sambil terus dipanaskan dan diaduk menggunakan mekanik stirrer, suhu dijaga tidak boleh lebih dari 85 0C.
5.      Setelah terbentuk putih susu reaksi dihentikan, hasil dikeluarkan dari three neck.
DATA PENGAMATAN     :
   Pada saat air dimasukan kedalam PVA, PVA akan sedikit sulit untuk dilarutkan. Tapi perlahan-lahan mulai larut dan warnanya jernih.
   Kemudian PVA, H2O2 dicampur (sambil diaduk dan dipanaskan) dan  pada suhu 30, 40, 50 dan 60 0C penambahan MMA tidak memberi perubahan pada larutan.
   Setelah suhu 70,80, dan 85  0C penambahan MMA memberi perubahan pada larutan dengan berubahnya larutan menjadi semain keruh. Dan warnanya juga putih susu.
   Setelah dipindahkan kedalam beaker glass untuk di endapkan. setelah didapatkan endapan padatan PMMA untuk dicuci dengan aquades, hasilnya PMMA yang didapatkan tidak larut.
   Berwarna         = putih
   Berbentuk        = cair

PEMBAHASAN                   :
Dalam pembuatan PMMA ini, poli vinil alcohol (PVA) yang dilarutkan dalam air panas harus semuanya terlarut dengan sempurna. Lalu barulah larutan PVA sebagai protektif koloid ditambah dengan katalis H2O2 dan setelah aktif katalis tersebut MMA dimasukkan perlahan-lahan sampai semuanya habis. Dan inilah terjadi proses pembebasan radikal bebas sehingga MMA bisa berpolimerisasi. Pada tahap inilah terjadi tahap inisiasi dimana merupakan tahap awal dalam proses polimerisasi, pada tahap ini inisiator yaitu hydrogen peroksida akan mengalami peristiwa dekomposisi atau pemecahan menghasilkan radikal bebas hydrogen peroksida, larutan pun berwarna putih bening. Selama proses polimerisasi pengaturan suhu serta pengadukan pun berpengaruh, karena semakin baik pengadukan dan juga suhu rekasi maka semakin baik dan semakin banyak pula emulsi yang didapatkan. Penambahan MMA yang sedikit demi sedikit ini dimaksudkan untuk proses propagasi dimana MMA yang satu dengan MMA yang lain saling berikatan hingga terjadi kejenuhan tertentu (terjadi pembesaran atau pengembangan molekul) sehingga larutan berubah warna dari jernih ke putih susu  Lalu lama kelamaan terjadi tahap terminasi dimana dan suhu telah konstan selama kurang lebih 2-3,5 jam maka PMMA terbentuk. Maka setelah berubah menjadi putih susu reaksi dihentikan, reaksi tersebut memerlukan waktu selama 3,5 jam.
KESIMPULAN                    :
Jadi PMMA yang hasilkan melalui proses emulsi ini berbentuk cairan putih susu .
DAFTAR PUSTAKA                      :
Bill Meyer.1962. Texbook of Polymer Science. New York : Interscience Publisher, adivision of John Wiley and sons
Brydson. 1975. Plastic materials. London : newness Butter Worths
Ullmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry Volume A 21 Hal. 473

Semarang, 13 Mei 2014
       Pembimbing                                                            Praktikan


(Ir. Sari Purnavita, M.T.)                                 (Antonius Y W) (Novitalia)




LAMPIRAN  :
Perhitungan
Basis : 50 gr MMA
             10 % PVA dari monomer
             Monomer : air = 70 : 30
Ø  Kebutuhan Air
  Air =  x 50 gr  = 21,43 gr
Ø  Kebutuhan PVA
PVA = 10% X 50 = 5 gr
Ø  Kebutuhan H2O2
H2O2 = 5% X 50 = 2,5 gr


No comments:

Post a Comment

(Chapter V - Food Technology) PERAN THEAFLAVIN DAN THEARUBIGINS DARI TEH HITAM DALAM MENCEGAH PENYAKIT JANTUNG

RINGKASAN Teh adalah minuman yang mengandung kafein , yang dibuat dengan cara menyeduh daun , pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeri...